Cinta pertama memang sering sekali diagung-agungkan sebagai cinta yang tidak pernah bisa dilupakan. Namun sebenarnya, cinta pertama terlahir bukan dari dasar hati, melainkan dari ego seseorang.

Cinta pertama biasanya muncul pada usia-usia muda sehingga seseorang masih menganggap bahwa keceriaan, kesenangan, dan kepuasan merupakan cinta itu sendiri. Itulah sebabnya, cinta pertama selalu terasa manis karena di situlah kamu pertama kali merasakan kepuasan egomu sendiri.

Berbeda dengan cinta terakhir, di mana kamu sudah merasakan penuh perjalanan (dari mulai hal yang paling indah sampai dengan yang paling buruk). Namun, dalam perjalanan itulah kamu menemukan sebuah takdir yang tidak bisa melepaskan rasa cintamu pada orang terakhir.

Setiap orang mungkin punya impian untuk bisa menemukan cinta sejatinya dengan menjadi cinta pertama dan terakhir bagi orang yang dimilikinya. Namun, hal itu tentu adalah sesuatu yang langka. Hanya sedikit pasangan yang diberikan momen indah untuk menjadi cinta pertama dan terakhir dalam waktu yang bersamaan.

Menjadi cinta pertama hanya akan menjadi kenangan, sedangkan menjadi cinta terakhir adalah kenyataan yang harus dilalui seseorang dalam hidupnya. Untuk itu, jika kamu tidak pernah bisa menjadi cinta pertama bagi orang yang kamu miliki saat ini, pastikan kalau kamu akan jadi cinta terakhir tempat seluruh cintanya berlabuh.

Karena tanpa cinta terakhir, seseorang tidak akan pernah benar-benar hidup dan memahami makna cinta yang sebenarnya. Dengan cinta terakhir, seseorang belajar arti cinta yang sebenarnya (bukan hanya sekadar kesenangan, melainkan pengorbanan).

Dengan cinta terakhir, seseorang belajar arti perjalanan (bukan hanya sekadar kepuasan pencapaian). Dengan cinta terakhir, setiap orang memahami bahwa cinta pertama adalah pertama kali kamu mengeja huruf A-B-C-D, dan seterusnya. Sementara cinta terakhir adalah perjalanan panjang yang membuatmu mengerti seluruh isi dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here