Di Arab Saudi, pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan harus melakukan tes kesehatan untuk mendeteksi adanya kelainan genetis yang mungkin akan diturunkan kepada anak-anak mereka.

Penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetis seperti penyakit sel sabit atau anemia sel sabit menurut situs Alodokter merupakan ketidaknormalan bentuk sel darah merah.

Seharusnya berbentuk bulat dan fleksibel, menjadi berbentuk sabit dan keras, dan menyebabkan tubuh kekurangan sel darah merah normal untuk transportasi nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh.

Selain anemia sel sabit, kelainan genetis lainnya adalah beta thalasemia, kelainan ini menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah atau hemoglobin tidak berfungsi secara normal, sehingga tidak dapat menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh.

Penyakit akibat kelainan genetik semacam ini memang banyak terjadi di negara-negara, di mana pernikahan dengan kerabat dekat seperti antar sepupu merupakan hal yang biasa, seperti di Arab Saudi.

Oleh karena itu, dilansir dari Gizmodo, sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan kelainan genetis dilakukan dengan tujuan mengurangi penyebaran penyakit ini.

Sebenarnya, kewajiban menjalankan pemeriksaan kesehatan pranikah untuk melakukan penilaian akan risiko terjadinya penyakit genetis ini sudah diberlakukan lebih dari satu dekade yang lalu.

Harapan pemerintah Arab Saudi adalah agar para pasangan yang terdeteksi berisiko tinggi melahirkan keturunan yang mengidap kelainan genetis ini membatalkan perkawinan mereka.

Memang, ada banyak pasangan yang membatalkan perkawinan tersebut dengan alasan ‘ketidakcocokan genetis’, akan tetapi masih banyak juga pasangan yang terus melanjutkan rencana perkawinan mereka, dan mempunyai anak.

Dikabarkan Saudi Gazette, akhir 2017 yang lalu, para mahasiswa kedokteran di King Abdulaziz University (KAU) di bawah pengawasan Princess Al-Jawhara Center of Excellence in Research of Hereditary Disorders (PACERHD) meluncurkan Gene.

Yaitu serangkaian kampanye kesadaran masyarakat yang akan berlangsung sepanjang tahun untuk menyebarkan kesadaran dan membuat masyarakat belajar langsung dari para ahli tentang penyakit dan faktor penyebabnya.

Mohamed Aljuhani, salah seorang mahasiswi kedokteran yang juga memimpin kampanye tersebut mengatakan bahwa kesalahpahaman yang sering terjadi tentang pemeriksaan kesehatan pranikah adalah untuk sekedar menentukan apakah mereka akan memiliki anak dengan penyakit genetik atau tidak.

“Padahal ada begitu banyak penyakit, dan berisiko tinggi untuk berkembang,” jelas Aljuhani. “Salah satu solusinya adalah dengan menghindari pernikahan antar keluarga, yang merupakan faktor signifikan yang menyebabkan kelainan genetik.”

Di Arab Saudi, pernikahan antar sepupu memang sering terjadi, sekitar 40 sampai 60 persen pasangan suami istri memiliki hubungan darah yang cukup dekat. Dan penyakit yang paling umum di sana adalah kelainan darah bawaan, gangguan metabolisme dan kelainan sistem saraf.

Bagaimana di Indonesia?

Kendati latar belakang budaya Indonesia berbeda dengan Arab Saudi, namun sebenarnya pemeriksaan kesehatan pranikah tetap harus dilakukan. Hal ini penting untuk mengidentifikasi atau melakukan deteksi dini adanya kelainan ataupun penyakit yang diidap oleh masing-masing pasangan, sehingga dapat dilakukan langkah untuk penanganannya.

Menurut dokter spesialis kandungan dan kebidanan RS Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, Mery, dikutip dari metrotvnews.com, pemeriksaan kesehatan bagi pasangan berguna untuk mencegah penularan penyakit infeksi, apabila salah satu pasangan terdeteksi mengidap penyakit.

Akan tetapi, ternyata pemeriksaan kesehatan sebelum menikah ternyata masih belum umum di dalam masyarakat Indonesia.

Pemeriksaan ini belum dianggap sebagai hal yang penting, padahal jika setiap pasangan mau melakukan pemeriksaan ini maka berbagai risiko penyakit jangka panjang, yang juga dapat menimpa anak keturunan, dapat diantisipasi dengan penanganan sedini dan semaksimal mungkin.

Dokter ahli kandungan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair), Muhammad Ardian C.L., dr., Sp.OG, M.Kes, dalam Unair News menjelaskan beberapa tahap pemeriksaan kesehatan pranikah yang meliputi pemeriksaan penyakit terdahulu, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan penyakit terdahulu dapat memberikan gambaran risiko penyakit yang dimiliki. Kemudian dengan pemeriksaan fisik dapat diketahui adanya gangguan atau kelainan, dan akhirnya dengan pemeriksaan laboratorium, berbagai penyakit yang belum diketahui sebelumnya dapat terdeteksi.

Beberapa hal yang dapat diantisipasi dengan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah selain kelainan genetis, juga meliputi risiko penularan penyakit seperti hepatitis, TBC, toksoplasma, serta HIV/AIDS, risiko infertilitas, kematian ibu dan bayi, serta bayi lahir cacat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here