Jika Anda hanya mempunyai waktu sehari untuk berwisata kuliner, tak ada salahnya memilih Bandung. Tak hanya kuliner yang memanjakan lidah, di kota Kota Kembang ini Anda bisa menelusuri kuliner legendaris yang memang tersohor.

Anda bisa mulai dari pagi hari dengan singgah di jalan Otto Iskandardinata. Perjalanan wisata kuliner di Bandung dimulai dengan mencicipi sarapan pagi Lontong Kari Kebon Karet (LKKK). Warung yang dirintis pasangan Haji Engkos Kosasih dan Hj Eti Suryati sudah tershor sejak 1966.

Awalnya, pasangan suami istri ini berjualan di pinggir Jalan Otto Iskandardinata, depan Gang Kebon Karet, tidak jauh dari kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Kemudian sekitar 1999, mereka membeli sebuah rumah di Gang Kebon Karet. Selanjutnya, mereka berjualan di rumah itu hingga sekarang.

Untuk Anda yang baru pertama kali ke Bandung, mungkin sedikit sulit menemukan warung LKKK. Sebab, warung ini letakknya menyempil di ujung sebuah gang sempit. Papan nama LKKK dan tanda panah sebagai petunjuk bisa membantu Anda.

Dari gang, Anda hanya berjalan sekitar 50 meter dan aroma kuah kari sudah tercium menggelitik hidung dan selera makan. Mulai pukul 07.00 WIB, warung LKKK sudah ramai pengunjung.

Satu porsi lontong kari berisi potongan daging yang berlimpah, telur ayam dan telur puyuh akan membuat Anda kenyang. Sajian kuah karinya kental dengan isi daging sengkel tanpa lemak menjadi ciri khas LKKK. Rasanya gurih dan jika Anda tambah dengan jeruk limau, jadi terasa lebih segar.

Sebagai penutup, Anda juga bisa memesan es campur. Satu porsi lontong kari dibandrol mulai hari Rp20 ribuan. Anda bisa memilih LKKK biasa atau spesial. Bedanya hanya pada penambahan telur saja.

Selanjutnya, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Jalan Braga, sebuah jalan yang memiliki keunikan tersendiri. Arsitektur di sepanjang jalan Braga kebanyakan bergaya kolonial Belanda. Jangan lupa untuk berfoto dengan latar bangunan Belanda kuno.

Sambil menunggu waktu makan siang, Anda bisa melihat deretan seniman yang menjajakan lukisannya. Pelukis yang ada di Braga kebanyakan berasal dari Jelekong, sebuah kampung pelukis di yang berada di kawasan Baleendah.

Lelah berjalan di Braga, Anda bisa mampir ke Sumber Hidangan, sebuah restoran yang juga dikenal sebagai perusahaan roti dan kue. Berdiri sejak tahun 1929 , Sumber Hidangan memberikan suasana tempo dulu bagi para pengunjungnya.

Sebelum manjadi Sumber Hidangan, tempat ini dulunya bernama Het Snoephuis yang menjual berbagai jenis kue-kue, roti dan lain-lainnya. Ada yang unik dalam daftar menu tempat makan ini yaitu sebagian besar menunya masih ditulis dalam bahasa Belanda seperti Kattetong, Eierkoekjes, Suiker Hagelslag, Janhagel, Kaastengel, Bokkepoot, Mocca Truffel, Chocolade Rotajes, ananastaart, dan Bokkepootjes.

Sebagai penutup Anda pun bisa menikmati sajian es krim dengan rasa yang beragam. Kompas menulis, ada rasa vanila, kopyor, cokelat, dan moka. Ada juga varian es krim dengan nama-nama unik seperti snow white, cafe glace, black and white.

Dan untuk buah tangan, Anda bisa membeli roti yang dikenal sejak dulu tak memakai bahan pengawet dan juga menyajikan roti jaman dulu.

Jika masih ada waktu cukup waktu, cobalah untuk mencicipi satu lagi wisata kuliner legendaris di Bandung. Setelah makan siang, Anda bisa menikmati yoghurt yang legendaris. Namanya Yoghurt Cisangkuy yang sudah ada sejak 1976.

Yoghurt Cisangkuy memiliki dua jenis pilihan yoghurt, yaitu minuman yoghurt kental dan juice. Yang membuat yoghurt Cisangkuy berbeda dengan tempat jajanan sejenis yang ada di tempat lain adalah karena rasanya tidak terlalu asam dan lebih manis seperti yoghurt yang kita kenal pada umumnya.

Anda bisa memilih aneka rasa yoghurt yang unik, seperti yoghurt dengan rasa tomat, rasa tape, dan sari kelapa. Harga satu gelas yoghurt mulai Rp 9.500.

Menutup hari di Bandung, tak salah jika Anda mampir ke rumah makan khas Sunda pada saat makan malam. Datanglah ke Sindang Reret di Jl Surapati 53 yang berdiri sejak 1973.

Pengunjung tak hanya dapat menikmati sajian kuliner khas Sunda, tetapi juga mulai dari penataan interior, alunan musik, pakaian para pelayan, serta sapaan khas pelayan kepada tamu tetap bercirikan Sunda. Sindang Reret memang berkonsep budaya Parahiyangan.

Menu favorit, dilansir Okezone, adalah ikan gurame yang digoreng kering dengan taburan saus irisan mangga muda. Perjalanan menikmati kuliner legendaris di Bandung usai sudah dengan pengalaman menarik. Menikmati makanan dan sejarahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here