Industri fashion saat ini semakin memudahkan orang untuk membeli baju. Anda dibombardir produk-produk fashion retail dengan harga terjangkau.

Dengan uang kurang dari Rp200 ribu, Anda sudah bisa mendapatkan pakaian bermerek internasional.

Di satu sisi, Anda memang mendapatkan produk fashion dengan harga murah, namun di sisi lain Anda bisa jadi sangat konsumtif. “Beli saja, harganya murah ini,” begitu pikir Anda.

Namun nyatanya ada beberapa hal di balik industri fashion–yang kemungkinan besar tidak Anda ketahui–sehingga produk-produk tersebut bisa dijual dengan harga murah.

Inilah salah satu hal yang dibahas dalam acara Obsat bersama WomanTalk dengan tema Fesyen dan Konsumerisme, di Jakarta, (08/09/2016).

Dalam kesempatan ini, Sadikin Gani, fotografer dan founder dari The Actual Style–sebuah media daring yang membahas style dan fashion–berbagi fakta-fakta mencengangkan tentang industri retail fashion yang kini dikenal dengan sebutan fast fashion. “Setidaknya lebih dari 1 juta pakaian terjual setiap hari di seluruh dunia,” kata Sadikin.

Selain itu, tambahnya, ada 250 juta buruh anak yang dipekerjakan untuk industri fashiondi seluruh dunia, terutama di negara-negara dunia ketiga seperti India, Bangladesh, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia. Beberapa diantaranya bahkan mengharuskan mereka bekerja selama 18 jam setiap hari dan tidak diperbolehkan keluar pabrik.

Fakta lain yang mengejutkan, ternyata industri pakaian merupakan penyumbang polusi terbesar kedua di dunia setelah industri minyak. Setiap tahunnya, jumlah pakaian yang dibuang di Inggris bisa memenuhi stadion Wembley Arena di London.

Setelah membaca fakta-fakta tersebut, mungkin Anda berpikir dua kali untuk belanja pakaian. Memang, sebagai perempuan, godaan belanja baju–apalagi untuk desain yang sedang menjadi tren, sangat besar.

Fashion stylist yang juga merupakan pakar fashion di WomanTalk, Ajeng Svastiari, juga mengalami hal yang sama. Ajeng mengakui dirinya termasuk tipe konsumtif.

Namun setelah mengetahui fakta-fakta buruk di balik industri tersebut, ia berusaha menjadi lebih bijak dalam belanja produk fashion. Ajeng berbagi tip agar Anda mulai sekarang mulai menjauh dari konsumerisme fashion.

– Membeli sesuai fungsi.

Ini merupakan peraturan utama bagi Ajeng. Jangan sampai Anda membeli pakaian sekadar mengikuti tren namun tak ada fungsinya.

– Pakaian wajib punya.

Sebaiknya Anda punya pakaian-pakaian dasar yang mudah untuk dipadu-padan, misalnya baju atau kemeja berwarna putih, celana hitam, celana jeans, dan rok hitam.

– Ada harga, ada kualitas.

Tak perlu ragu membeli tas atau sepatu dengan harga sedikit mahal, namun bisa awet dipakai hingga 5-10 tahun. Daripada membeli yang murah, tapi dalam waktu setahun sudah rusak dan harus dibuang.

– Mereparasi bukan membeli

Perbarui barang Anda tanpa harus membeli yang baru. Ajeng mencontohkan, di Jepang Anda bisa mengganti sol sepatu (resol) yang sudah rusak sehingga tak perlu membeli sepatu baru.

– Kreatif dalam padu padan

Tak perlu malu jika harus memakai baju yang sama berkali-kali. Kreativitas untuk padu padan pakaian adalah kunci agar Anda tetap terlihat beda meski menggunakan item yang sama.

– Menyederhanakan lemari pakaian

Kalau selama ini Anda pusing mau memakai baju apa karena terlalu banyak pakaian menumpuk, coba sederhanakanlah isi lemari Anda.

Pertama, pilah pakaian mana yang baru Anda pakai sekali atau bahkan tak pernah Anda pakai sama sekali bertahun-tahun. Setelah itu, pakaian yang sudah tersortir tersebut bisa disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan atau bisa juga bertukar pakaian dengan sahabat Anda. Cara ini cukup efektif untuk menyegarkan isi lemari Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here